Camat Sipirok, Parlindungan Harahap SH.MM, berdiri dan setengah
berlari menghampiri bupati. Tidak ada yang menyangka kejadian itu.
Padahal, bupati sedang menjelaskan pembangunan yang telah dan akan
dijalankan ke depan.
“Kami sudah banyak melihat dan merasakan hasil pembangunan semenjak
bapak memimpin Tapsel. Tetapi kenapa sampai sekarang jalan ke Saba
Tolang dan Janji Lobi belum bapak bangun ?” kata Boru Manurung dengan
suara lantang.
Bahkan dua orang teman Boru Manurung mengaku cemburu dengan gencarnya
pembangunan ke Pargarutan Luat Harangan Sipirok. Padahal daerah itu
dikenal sangat terpencil, terjauh, terpelosok, dan dari dulu-dulu tidak
pernah dibangun.
“Dua tahun terakhir ini banyak sekali proyek pemerintah di sana, dan ke
desa-desa terpencil di Sipirok Narobi. Untuk apa bapak membangun daerah
terpencil, sedang jalan ke kampung dan tempat usaha kami yang di dekat
kota ini tidak bapak bangun,” katanya.B
ahkan, Boru Manurung dan temannya membandingkan pembangunan jalan dari
Sipirok menuju Marancar dan Batangtoru yang sudah hotmix dengan Saba
Tolang dan Janji Lobi yang masih bebatuan. Bupati Tapsel terdiam sejenak
dan kemudian menjawab tuntutan tiga ibu-ibu yang menghentikan pidatonya
itu.
Pertama,k atanya, harus diakui bahwapembangunan di Tapsel sudah sangat
banyak dan mungkin melebihi tahun-tahun sebelumnya. “Meski alokasinya
banyak, namun belum seimbang dengan banyaknya kebutuhan pembangunan di
14 kecamatan. Sehingga, harus dipilah-pilah sesuai kebutuhan prioritas
atau yang mendesak. Percayalah, semua akan kita tuntaskan secara
bertahap,” katanya.
Mengenai jalan dari Sipirok menuju Marancar dan Batangtoru, kata
Syahrul, itu berkat bantuan saudara dan teman-teman di pemerintahan dan
DPRD Sumatera Utara. Tidak serupiah pun uang APBD Pemkab Tapsel yang
digunakan untuk pembangunannya.
Mantan anggota DPRD Sumut tiga periode dari Partai Golkar ini
menambahkan, hingga kini masih ada desa di Tapsel yang belum bisa
dilalui kendaraan. Jangankan untuk kendaraan,hingga kini akses ke desa
itu masih jalan setapak.“Tadi ibu-ibu menyinggung tentang Pargarutan
Luat Harangan Sipirok.
Sudah 69 tahun Indonesia merdeka, baru tahun ini warga desa itu bisa
menikmati jalan yang layak dan bisa ke Pasar Sipirok dengan jarak tempuh
1,5 jam. Selama ini harus 7 jam,” ujarnya.
Baru tahun ini pula anak-anak kelas 6 SD di sana tidak putus sekolah,
hanya karena ketiadaan biaya orangtua mengirim mereka Ujian Nasional ke
Pasar Sipirok. Sekarnag, tidak harus mengeluarkan uang banyak, karena UN
sudah bisa di Desa Gadu, jalan kaki 1 jam.
“Mengenai jalan ke Saba Tolang dan Janji Lobi, saya akui belum begitu
memuaskan. Tapi sudah jauh lebih baik disbanding ke Luat Harangan
Sipirok dan desa terpencil di Kecamatan Aek Bilah dan Saipar Dolok
Hole,”sebut Syahrul.
Kepada seluruh jemaah pengajian akbar Kec. Sipirok yang anggotanya
mencapai 1.500 orang, Syahrul berjanji akan menuntaskan semua
pembangunan yang sudah,sedang, dan akan dijalankan di Tapsel secara
bertahap.
Tentang ibu-ibu yang menghentikan pidatonya itu, Syahrul mengaku sudah
sering diperlakukan seperti ini di pengajian akbar.Ini merupakan bukti
kedekatan hubungan emosional antara rakyat dengan pemimpinnya. (WSP/a27)Sumber : Berita Sore
Rabu, 17 September 2014
-
04.58
-
Unknown
-
No comments
SIPIROK - Tiga orang ibu anggota pengajian akbar se Kec.
Sipirok dipusatkan di Desa Paran Padang, Minggu (14/9), tiba-tiba
menghentikan pidato Bupati Tapsel, H. Syahrul M Pasaribu SH.Suasana
pengajian menjadi riuh.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar